Senin, 03 Februari 2025

Cryptocurrency Bitcoin

 Salam kepada netter

Masih diingat oleh penyusun, diawal-awal tahun 2010-2011. Penyusun sering mencari bisnis online, yang mana sebetulnya hanya berupa scam. Kelihatannya seperti bisnis tetapi hanya mengandalkan "Rayuan Satu Halaman", yaitu halaman depan. Dengan iming-iming keuntungan yang besar, padahal hanya membuat web yang merupakan copy-paste dari web induk penjual.
Dari sekian banyak bisnis online. Yang penyusun merasa yang paling berbobot adalah Clickbank. Penjualan informasi online, sayangnya penyusun tidak terlalu jago didalam menjalankan SEO (Search Engine Optimation). Dan rasanya market yang dituju selalu salah sasaran. Sehingga tidak begitu berhasil. padahal sudah membuat web autoblog yang menarik iklan produk Clickbank sebanyak-banyaknya sesuai tema blog/web.
Salah satu bisnis online yang penyusun perhatikan adalah Bitcoin. Waktu itu harganya masih sangat rendah, dengan berbekal laptop dan CPU yg dibuka semalaman menjalankan mining di situs bitminter.com sudah dapat menghasilkan Bitcoin. Demikian juga di e-bay sedemikian banyak mining Contract dengan harga yang sangat murah, kita dapat menghasilkan Bitcoin.
Sayang, karena keterbatasan wawasan sehingga semuanya disia-siakan. Apalagi di berita digembar-gemborkan mengenai 'bank' Bitcoin Mount Gox. Kolaps dan menghilangkan banyak uang investor. Hackerlah.....mungkin sebagai kambing hitam, atau hal lain ....kita tidak mengetahuinya.

Untuk saat ini, beberapa negara yang mengalami krisis mencoba alternatif alat tukar. Dan mampu menjalankan perekonomian. Disertai makin meleknya Bitcoin beserta teknologi Blockchain yang tidak dapat dimanipulasi. Terjadi lonjakan penggunaan dan penambangan Bitcoin. Pertambangan dimulai dengan CPU, beralih ke GPU, beralih ke FPGA (Field Programmable Gate Array), beralih ke Chip ASIC (Aplication Specific Integrated Circuit) dan terus berkembang hanya dalam masa yang belum mencapai satu dekade.

Dengan pertumbuhan penambangan yang dahsyat tentu saja menumbuhkan kesulitan penambangn, diimbangi dengan semakin sedikitnya quatu hasil.


Dengan perhitungan algorithma dan pendapatan penambangan, telah memangkas pendapatan Bitcoin dalam setiap siklus empat tahun. Dimana batas terakhir sampai tahun 2140.

Setiap akhir dari siklus telah mengakibatkan lonjakan value yang gila-gilaan.

Mari, mulailah untuk memahami fenomena dunia. Berbagi dan sharing apa yang kita ketahui mengenai dunia Crypto. Mencari jalan terbaik menghasilkan Crypto. Berinvestasi dengan cerdik.
Di blog ini, selain sharing apa yang kami ketahui. Kami memperkenalkan WaKuang.Co
One stop mining solution.

Mari pelajari bersama, belajar bersama. dan menghasilkan bersama.

Salam Sukses

Muliadi

Menambang BITCOIN

 Di tahun 2025 ini, mendengar menambang BTC adalah suatu yg mustahil, padahal kita tahu BTC habis ditambang pada thn 2140 dan selama itu akan terjadi 32 kali halfing, dari diciptakannya di thn 2009 an .

Dapat dibayangkan berapa tinggi hash yg dibutuhkan dan seberapa besar energi yg dibutuhkan, 

Kami susun makalah di waktu yang sudah lama, biarlah itu menjadi pengetahuan awal. dari pengenalan akan cara nambang BTC dimasa masa awal

Untuk pemula 

silahkan disimak : Menambang BITCOIN

Yield Farming

 YIELD FARMING

Yield Farming adalah cara terbaru menghasilkan mata uang kripto dengan kripto yang kamu

punya. Gimana ya caranya? Sebenarnya cara ini sama seperti meminjam uang pada sistem

bank biasa.


Misalnya saja, pada sistem keuangan terpusat, Bank memiliki kewenangan untuk

memberikan pinjaman, nanti nasabah Bank yang meminjam akan mengembalikan dana

tersebut beserta bunga kepada Bank. Ataupun cara sebaliknya, ketika nasabah menabung

biasa atau dengan deposito, Bank akan memberikan mereka bunga sebagai imbalan.


Nah, pada sistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) cara itu diadopsi sedemikian rupa,

tetapi tanpa perantara. Peran Bank yang semula adalah sebagai pusat kontrol dana tersebut,

digantikan dengan teknologi smart contract yang ada di dalam protokol blockchain.


Tentunya, strategi setiap protokol berbeda sesuai dengan algoritma sistem mereka masing-

masing.


Sekilas Tentang DeFi

Keuangan Terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi) di ruang blockchain semakin

hari semakin berkembang. Inovasi ini digandrungi oleh semakin banyak orang

karena interest/bunga yang ditawarkan. Lalu apa yang membuat DeFi ini unik?


Tidak seperti sistem keuangan tradisional yang diatur dan diregulasi oleh pusat, setiap

entitas yang terlibat pada platform DeFi memiliki kesempatan untuk memberikan

pinjamannya berupa aset kripto kepada pengguna lain dengan smart contract di dalam

protokol tersebut, tanpa ada perantara apa pun, selama mereka terkoneksi dengan internet.

Perkembangan DeFi itu, memunculkan konsep baru bernama Yield Farming.

Yield Farming sendiri merupakan cara untuk mendapatkan hadiah/rewards berupa

kepemilikan mata uang kripto menggunakan protokol likuiditas yang permission less atau

tanpa izin. Ini membuat siapa saja bisa mendapatkan pendapatan pasif menggunakan

ekosistem terdesentralisasi yang dibangun di atas jaringan Ethereum.


Yield Farming ini juga memberikan cara baru kepada investor HODL untuk tetap memiliki

mata uang kriptonya disamping juga menghasilkan kripto lainnya dari aset tersebut.


Apa itu Yield Farming?

Yield Farming ini disebut juga penambangan likuiditas atau liquidity mining, cara untuk

menghasilkan rewards/hadiah dengan kepemilikan aset kripto. Intinya, dengan aset kripto

untuk menghasilkan kripto lainnya.


Yield Farming baru akan berjalan ketika Liquidity Providers (LPs) bertindak sebagai

pengguna yang menempatkan aset kriptonya ke dalam kumpulan likuiditas (Liquidity Pools)

tersebut. Liquidity Providersini bisa diartikan sebagai pemberi pinjaman, mengingat aset

kripto mereka nantinya dapat dipinjam dan digunakan oleh pengguna lain.

Liquidity Pools sendiri merupakan smart contract yang mengunci/berisi dana dari pemberi

pinjaman tersebut. Dengan masuknya kripto di dalam kumpulan likuiditas, pemberi

pinjaman nantinya akan mendapatkan rewards atau bunga sesuai dengan kripto yang

mereka pinjamkan.


Yield Farming ini biasanya dilakukan dengan menggunakan token ERC-20 pada jaringan

Ethereum. Selanjutnya rewards atau bunga yang akan didapatkan oleh pemberi pinjaman

juga berupa token ERC-20.


Di samping itu, dengan perkembangan dan ruang tumbuh dari teknologi DeFi, platform

atau Decentralized Applications (dApps) ini akan bisa mendukung kemampuan smart

contract dengan berpindah protokol.


Tentunya, jika hal ini sudah dapat direalisasikan, pengguna platform sebagai pemberi

pinjaman akan dapat memindahkan kepemilikan kripto mereka kebanyak protokol lainnya

untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi lagi.

Selain keuntungan yang didapatkan oleh pemberi pinjaman, hal ini juga dapat memberikan

keuntungan kepada platform tersebut karena semakin banyak modal yang akan masuk ke

dalam protokol mereka.


Bagaimana Cara Kerja Yield Farming?

Sebelumnya, kalian tahu apa itu istilah Market Maker (MM)? MM dalam konsep pertukaran

kripto adalah trader yang membeli/menjual aset kripto pada harga tertentu dengan cara

menempatkan posisi Limit.


Berbeda dari sistem yang digunakan pada bursa pertukaran, yield farming ini menggunakan

model Automated Market Maker (AMM) dan melibatkan Liquidity Providers (LPs)

serta Liquidity Pools.


Lalu, bagaimana cara kerjanya?


Agar mudah dimengerti Liquidity Providers (LPs) akan diterjemahkan menjadi “penyedia

likuiditas”. Ia di sini berperan sebagai pemilik aset kripto yang menyimpan dananya pada

kumpulan likuiditas atau Liquidity Pools.


Liquidity Pools ini berperan sebagai tempat atau pasar pengguna meminjamkan asetnya,

meminjamnya pada pengguna lain, atau hanya sekedar menukarkan aset tersebut kepada

token ERC-20.


Pengguna platform atau peminjam aset nantinya akan dikenakan biaya tertentu, biaya

tersebut nantinya akan dibayarkan kepada penyedia likuiditas sesuai dengan bagian yang

mereka berikan pada Liquidity Pools.


Selain biaya tersebut, cara Liquidity Pools mendapatkan perputaran dana adalah dengan

distribusi token baru yang masuk ke dalam protokol. Semakin banyak token yang masuk,

maka Liquidity Pools ini akan semakin kaya yang tentunya akan menguntungkan semua

pihak.


Tentunya, setiap protokol yang menerapkan yield farming ini memiliki aturan distribusi yang

berbeda. Namun, penyedia likuiditas tetap aka mendapatkan return dari aset yang mereka

pinjamkan di Liquidity Pools.


Biasanya dana tersebut disimpan dalam bentuk stablecoin yang dipatok dengan USD seperti

DAI, USDT, USDC, BUSD, dan lainnya. Beberapa protokol biasanya mencetak tokennya

sendiri yang nantinya akan disimpan dalam sistem. Hal ini terlihat dalam protokol

Compound yang memiliki token berupa Comp.


Contoh, jika kamu memiliki ETH dan memasukkannya ke dalam protokol Compound, ETH

kamu akan menjadi cETH yang dipatok dengan USD. Koin lain seperti DAI juga akan

mengalami proses yang sama dan akan menjadi cDAI. Terlebih lagi, koin-koin ini dapat

berpindah protokol dan tentunya mencetak koin baru yang akan mewakili koin tersebut.


Bagaimana Cara Return Yield Farming Dihitung?

Hasil dari yield farming biasanya dihitung secara tahunan. Beberapa metrik yang umum

digunakan adalah Annual Percentage Rate (APR) dan Annual Percentage Yield (APY).

Perbedaan dari keduanya, terletak pada penggabungan token, jika APR memperhitungkan

nilai dari compounding token, APY tidak memperhitungkan hal tersebut.


Compounding di sini berarti menginvestasikan kembali keuntungan secara langsung untuk

menghasilkan lebih banyak keuntungan. Antara APR dan APY ini dapat digunakan secara

bergantian.


Perlu diingat bahwa hasil dari APR dan APY ini tidak dapat diperkirakan secara akurat. Ini

dilatabelakangi dengan kondisi pasar yield farmingyang memang sangat kompetitif dan

bergerak sangat cepat, hal ini membuat rewards/return yang diterima juga berfluktuasi

dengan cepat.

Metrik ini sebenarnya dirasa akan semakin baik jika perhitungan dilakukan secara minggu

atau bahkan harian. Sehingga dapat memberikan keuntungan dan perhitungan yang masuk


akal untuk para pemberi pinjaman. Namun, hal ini masih dalam tahap pertimbangan

pengembang platform DeFi.


Risiko dari Yield Farming

Sebenarnya yield farming ini direkomendasikan kepada para pengguna kritpto tingkat lanjut.

Hal ini mengingat strategi dan kompleksitas di dalam protokol itu sendiri. Terlebih yield

farming ini biasanya dilakukan oleh mereka yang memang memiliki banyak modal atau

investor dengan kepemilikan aset kripto yang banyak seperti “Whales / Cukong Mata Uang

Kripto”.


Selain itu, risiko yang sebenarnya menghantui yield farming ini terletak pada smart

contract-nya itu sendiri. Banyak dari pengembang platform DeFi dibangun oleh tim kecil

dengan anggaran terbatas, hal ini dapat meningkatkan risiko bug di pemrograman smart

contract tersebut.


Biasanya, bug ditemukan ketika dilakukan pengecekan oleh perusahan audit, ditambah

protokol sudah berjalan. Hal ini membuat dana pengguna yang telah terkunci dalam

protokol rentan untuk hilang begitu saja.


Sebenarnya, DeFi muncul dengan gagasan yang sangat cemerlang, platform-platform ini

dibangun dengan konsep penyesuaian diri atau komposabilitas, didasarkan pada protokol

yang terintegrasi satu sama lain.


Konsep di atas membuat ekosistem DeFi ini sangat bergantung pada setiap blok

penyusunnya. Kondisi ini membuat rentan terhadap kesalahan atau error pada protokol.

Bayangkan saja, jika satu saja blok penyusun tidak berfungsi dengan baik, ini akan

membuat seluruh ekosistem jaringan rusak. Lebih lanjut, ini dapat menimbulkan risiko

terhadap para pemberi pinjaman dan juga return yang akan diterima.

Cryptocurrency Bitcoin

 Salam kepada netter Masih diingat oleh penyusun, diawal-awal tahun 2010-2011. Penyusun sering mencari bisnis online, yang mana sebetulnya h...